Dero.NgawiKab.id – Sebuah tradisi turun temurun yang masih ada hingga kini dengan Derasnya globalisasi yang serba modern, canggih seperti tak dapat menghentikan masyarakat di Desa Dero Kecamatan Bringin kabupaten Ngawi, untuk melestarikan kearifan lokal ini. Kami menyebutnya tradisi “YASINAN” Tak pernah tau kapan persisnya tradisi ini dibentuk. Namun, kehadirannya sudah melekat di sendi kehidupan masyarakat kami.

Sebenarnya (yasinan) berawal dari kata yaasiin. Yang berada dalam surat yaasiin di Al-qur’an. Memang, tradisi ini disertai dengan pembacaan surat yaasiin. Kemudian dilanjutkan tahlil. Dan ditutup dengan doa.Dari sinilah berkembang istilah yasinan hingga kini. Tradisi ini sudah umum dilakukan oleh para bapak-bapak maupun ibu-ibu. Namun, di Desa kami masyarakat Dero bapak-bapak khususnya melaksanakan kegiatan ini setiap tiga bulan sekali.Mungkin diberbagai daerah mempunyai cara masing-masing. Salah satunya adalah cara pelaksanannya. Jika sebagian masyarakat melakukannya di masjid. Berbeda dengan masyarakat kami. Di Desa kami, tradisi (yasinan) dilakukan secara bergiliran dari rumah ke rumah dan dari dusun ke Dusun lainnya.inilah YASINAN RUTINAN TINGKAT DESA”, Desa Dero.

Kades Dero dan perangkat Desa serta BPD desa Dero.

Yasinan ini sudah berjalan sembilan tahun lamanya dan malam ini Rumah Pak Sekdes Dero Drs Sukiman, tepat nya di Dusun dero Kidul mendapatkan giliran yasinan. Kades Dero dan semua perangkat Desa, BPD beserta anggotanya, Ketua RT, RW di wilayah dero tampak hadir dalam kegiatan ini.

Pembacaan yasin menandakan kegiatan sudah dimulai. Pembacaan yasin dibaca bersama-sama oleh warga yang hadir. Namun sebelum itu, pihak sohibul bait (tuan rumah) telah mengirimkan doa saat ikror. Yang dibacakan oleh pemimpin yasinan.Kegiatan ini juga sebagai kirim doa untuk leluhur yang telah mendahului kita Agar para leluhur diampuni segala perbuatan dan dosa-dosanya. Mengingat ada tiga amalan yang tidak akan pernah putus saat meninggal. Salah satunya adalah doa anak yang sholeh.

Jama’ah Yasinan Rutin tingkat Desa

Setelah pembacaan yasin dilanjutkan dengan tahlil. Kehusukan Nampak terlihat dari masing-masing. Alunan istigfar bersambung berganti bacaan syahadat menirukan sang instrukur. Setelah tahlil usai ditutup dengan doa.
Kerukunan nampak terpancar dari masing-masing. Bercengkerama berbagi keluh kesah yang mereka alami. Raut wajah yang sumringah menambah keakraban. Kesederhanaan membawa kami pada guyubnya persatuan masyarakat Desa Dero.
Banyak sekali nilai-nilai yang diajarkan dalam tradisi ini. Misalkan sopan santun dengan orang yang lebih tua. Hal ini dapat terlihat bagaimana golongan muda dalam memberikan pelayanan terhadap golongan yang lebih tua. Kemudian merawat persatuan dan kesatuan. Kehadiran Kades dan perangkat desa Serta lembaga desa lainnya dan para warga sekaligus sebagai pupuk pemersatu dan menguatkan kedekatan emosional antar satu sama lain.

Sesi akhir kegiatan (Sholawatan)

Selain itu, kegiatan yang bisa dibilang keagamaan ini dapat berjalan berdampingan dengan nilai-nilai kehidupan sosial masyarakat. Tanpa merubah tatanan sosialnya. Bahkan dapat menciptakan sebuah budaya baru dan berkembang di masyarakat. Dampak nya jelas, yaitu menjaga keutuhan masyarakat.Dengan demikian, kearifan lokal “yasinan” dapat dikatakan sebagai warisan budaya non benda. Yang dapat kita pelihara dan jaga hingga anak cucu kelak. Agar keutuhan dan kebhinekaan dapat terjaga sepanjang masa.(Wo).

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0