DERO.NGAWIKAB.ID – Manusia diciptakan adalah untuk beribadah menyembah Allah swt. Sementara umur manusia itu terbatas dan hidupnya di dunia hanyalah sebentar dan sementara.

Hidup manusia di dunia ini ibarat orang yang berhenti untuk minum, sebentar sekali. Namun kebanyakan manusia tidak menyadari hal itu. Ia melewatkan waktu hidupnya dengan sia-sia.

Padahal kalau dihitung manusia rata-rata tidur setiap hari 8 jam sehingga jika diakumulasikan, manusia banyak menghabiskan waktunya untuk tidur. Lalu bagaimana menjadikan sisa waktu yang kita miliki menjadi bermakna dan bernilai ibadah dan bisa menjadi manusia yang baik dan bermanfaat bagi orang lain.

Tentunya kita harus memanfaatkan setiap detik waktu yang ada, dengan sebaik-baiknya dan menjadikan setiap aktifitas kita bernilai ibadah. Bagaimana caranya?

Dengan melibatkan Allah dalam setiap aktifitas, mengiringi setiap aktifitas dengan do’a dan dzikir kepada Allah. Dengan demikian rahmat Allah akan senantiasa tercurah kepada kita.
Manusia adalah sebaik-baik makhluk yang diciptakan oleh Allah swt maka manusia memiliki kedudukan yang mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain.

Maka Allah memberikan amanat kepada manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Akan tetapi derajat kemuliaan seseorang dengan yang lainnya berbeda-beda sesuai dengan tingkat amal kebajikan yang telah ia lakukan.

Khairunnasi ahsanuhum khuluqon wa anfa’uhum linnasi. Begitulah adagium arab memberikan memberikan gambaran kepada kita bagaimanakah ukuruan sebaik-baik manusia? Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik budi pekertinya dan yang paling bermanfaat bagi manusia. Orang yang memiliki budi pekerti yang baik akan membuat orang lain nyaman untuk bergaul dan berteman dengannya. Sementara orang yang bermanfaat bagi orang lain akan senantiasa dirindukan karena kehadirannya selalu mendatangkan manfaat. Apalagi jika kedua akhlak ini terkumpul dalam diri seseorang sudah bisa dipastikan ia adalah sebaik-baik manusia sesuai dengan kriteria yang yang di jelaskan oleh Rasulullah saw, sebagaimana yang terdapat dalam hadits berikut.

Rasulullah telah memberikan petunjuk untuk mengetahui derajat kemuliaan seseorang. Tingkat derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana dirinya punya nilai mamfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda, “Khairunnas anfa’uhum linnas”, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak mamfaatnya bagi orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ini memberikan petunjuk dan pedoman bahwasanya kalau ingin mengukur mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri ini? Istilah Emha Ainun Nadjib-nya, tanyakanlah pada diri ini apakah kita ini manusia wajib, sunat, mubah, makruh, atau malah manusia haram?

Apa itu manusia wajib? Manusia wajib adalah manusia yang keberadannya sangat dirindukan dan dinantikan kehadirannya, sangat bermamfat, perilakunya membuat hati orang di sekitarnya merasa nyaman, aman, tentram seakan-akan hatinya tercuri oleh perangainya yang elok dan menyenangkan. Beberapa tanda-tanda yang nampak dari seorang manusia wajib, diantaranya adalah dia seorang pemalu, jarang mengganggu orang lain sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku kesehariannya lebih banyak kebaikannya dari pada keburukannya. Ucapannya senantiasa terpelihara, tutur katanya manis dan lemah lembut, ia hemat betul kata-katanya, sehingga lebih banyak berbuat daripada berbicara. Sedikit kesalahannya, tidak suka mencampuri sesuatu yang bukan urusannya, dan ia sangat nikmat kalau berbuat kebaikan. Hari-harinya tidak lepas dari menjaga silaturahmi, sikapnya penuh wibawa, penyabar, selalu berterima kasih, penyantun, lemah lembut, bisa menahan dan mengendalikan diri, serta penuh kasih sayang.


Orang yang memiliki akhlak yang mulia tidak akan berperilaku melaknat, memaki-maki, memfitnah, menggunjing, bersikap tergesa-gesa, dengki, bakhil, ataupun menghasut. Justru ia selalu berwajah cerah, ramah tamah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan marahnya pun karena Allah SWT, subhanallaah, demikian indah hidupnya.

Karenanya, siapapun yang berada di dekatnya pastilah akan tercuri hatinya. Kata-katanya akan senantiasa terngiang-ngiang. Keramahannya pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yang sedang membara. Jikalau saja orang yang berakhlak mulia ini tidak ada, maka siapapun akan merasa kehilangan, akan terasa ada sesuatu yang kosong di rongga qolbu ini. Orang yang wajib, adanya pasti penuh mamfaat. Begitulah kurang lebih perwujudan akhlak yang baik, dan ternyata ia hanya akan lahir dari semburat kepribadian yang baik pula.

Orang yang sunah, keberadaannya bermamfaat, tetapi kalau pun tidak ada tidak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan.

Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amalnya belum dari lubuk hati yang paling dalam. Karena hati akan tersentuh oleh hati lagi. Seperti halnya kalau kita berjumpa dengan orang yang berhati tulus, perilakunya benar-benar akan meresap masuk ke rongga qolbu siapapun.
Orang yang mubah, ada tidak adanya tidak berpengaruh. Di kantor kerja atau bolos sama saja. Seorang pemuda yang ketika ada di rumah keadaan menjadi berantakan, dan kalau tidak adapun tetap berantakan. Inilah pemuda yang mubah. Ada dan tiadanya tidak membawa mamfaat, tidak juga membawa mudharat.

Adapun orang yang makruh, keberadannya justru membawa mudharat. Kalau dia tidak ada, tidak berpengaruh. Artinya kalau dia datang ke suatu tempat maka orang merasa bosan atau tidak senang.

Misalnya, ada seorang ayah sebelum pulang dari kantor suasana rumah sangat tenang, tetapi ketika klakson dibunyikan tanda sang ayah sudah datang, anak-anak malah lari ke tetangga, ibu cemas, dan pembantu pun sangat gelisah. Inilah seorang ayah yang keberadaannya menimbulkan masalah.

Lain lagi dengan orang bertipe haram, keberadaannya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Jika dia pergi ke kantor, perlengkapan kantor pada hilang, maka ketika orang ini dipecat semua karyawan yang ada malah mensyukurinya.

Masya Allah, tidak ada salahnya kita merenung sejenak, tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan orang tua atau hanya jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat mamfaat tidak dengan kehadiran kita?

Adanya kita di masyarakat sebagai manusia apa, wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram? Kenapa tiap kita masuk ruangan teman-teman malah pada menjauhi, apakah karena perilaku sombong kita?

Apakah kita ini seorang guru yang tulus dan ikhlas dalam mendidik dan mengajar sehingga ilmu yang kita ajarkan dapat diserap dengan baik oleh anak didik kita? Sejauh mana kontribusi kita terhadap masyarakat dalam membangun dan mewujudkan masyarakan yang berakhlak mulia dan mendapatkan ridha dan curahan rahmat dari Allah swt? Wallahu a’lam

Di kutip Dari Kompasiana.com