DERO.NGAWIKAB.ID – Barangkali tak banyak lagi masyarakat Jawa yang melakoni tradisi Tedak Siten saat ini. Namun di Ngawi , tradisi ini dilestarikan.

Seperti yang dilakukan warga Desa Gandong RT 5 RW 2 Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi. Adalah Naila Hernandia Latifah , putri pasangan Harianto (37) dan Erna (29). Mereka berdua mengaku memang sengaja melangsungkan prosesi Tedak Siten. Kegiatan tersebut mengundang belasan anak-anak tetangganya.

Acara naik tangga

Adapun tujuan dari pelaksanaan tradisi, yaitu supaya anak-anak sekitar dapat mengenal tradisi atau budaya Jawa tempo dulu.

“Sehingga dapat dibangkitkan kembali di tengah gerusan era digital seperti sekarang,” kata Erna yang merupakan Kasun di salah satu Kasun di Gandong, Senin (11/10/2020).

Dia menuturkan kalau zaman semasa kecil dulu memang masih banyak warga mengadakannya tradisi ini. Bahkan, dia sering mengahadiri prosesi Tedak Siten anak-anak tetanggnya. Namun seiring berjalannya waktu kini tradisi tersebut mulai jarang dilakukan lagi.

Tedak Siten juga dikenal sebagai upacara turun tanah. ‘Tedak’ berarti turun dan ‘siten’ berasal dari kata ‘siti’ yang berarti tanah. Prosesi ini juga bertujuan supaya anak tumbuh menjadi anak mandiri.

“Anak saya ditaruh dalam kurungan. Dilungguhke ne gemblong (didudukkan di atas gemblong atau makanan jadah),” bebernya.

Dia juga menerangkan pada prosesi itu, sesepuh desa setempat ikut mendoakan hingga akhirnya acara selesai.

Acara sebar duit

“Terus diakhiri dengan sebar duit receh dan diperebutkan anak-anak. Biar acara semakin ramai,” imbuhnya.

Suparmo, yang merupakan Sesepuh Desa gandong menjelaskan sampai saat ini tidak banyak warga gandong yang menyelenggarakan Tedak Siten.

“Masih ada walau tidak banyak,” kata parmo kepada dero.ngawikab.id

Dijelaskannya lebih lanjut, Tedak Siten itu tradisi Jawa. Praktis, ada banyak daerah yang melakukannya,”jelas parmo

Sebenarnya sejak kapan tradisi ini ada? Parmo menuturkan, tradisi Tedak Siten ada sejak nenek moyang ada. Dia menerangkan, semua proses ritual dalam tradisi Jawa, termasuk Tedak Siten adalah bahasa simbolik yang ajarkan kearifan hidup.

“Bagaimana relasi dengan manusia, alam dan Tuhan secara harmoni,” pungkas parmo.