DERO.NGAWIKAB.ID – Usia senja tak menghalangi Sukarti, warga Dusun Tegal Duwur, Desa Dero Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi ini, untuk terus berkarya. Meski tubuh tak sekuat saat muda dulu, perempuan berusia 59 tahun ini masih memperlihatkan semangat untuk menjadi buruh tandur (tanam padi).

Berita Terkait : Ndaut Menjadi Pemandangan, Yang Menarik Di Musim Awal Tanam Padi

Saat memasuki musim tanam padi, mereka selalu menjadi tumpuan dari para petani di dusun setempat untuk menggunakan jasanya menanam padi di sawah-sawah mereka. Berangkat pagi sekitar pukul 05.00 WIB dan baru terik siang setelah dhuhur, sekitar pukul 13.00 WIB dia akan pulang.

Menjadi buruh tandur, seolah menjadi panggilan jiwa baginya. Selain tuntutan ekonomi, alasan lain sehingga ia masih setia untuk membantu para petani ini adalah sedikitnya generasi muda yang meneruskan profesi ini.

Sampun kawit rumiyin kulo buruh tandur, dumugi sakmeniko nggih tasih buruh tandur. Tiyang nem sakniki sampun boten wonten ingkang purun buruh tandur. (sudah dari dulu saya jadi buruh tanam padi, sampai sekarang masih jadi buruh tanam padi. Yang muda-muda sudah tidak mau jadi buruh tanam padi),” ujar Sukarti, ditemui dero.ngawikab.id saat berada di area persawahan Dusun Tegal Duwur Desa Dero, Jumat (04/12) pagi

Sukarti ( Biru), Janem ( kuning) saat ditemui dero.ngawikab sedang makan di gubuk tepi sawah.

Sukarti tidak sendiri, karena hari ini dia ditemani dua tetangganya sesama ibu-ibu yang juga sudah menginjak usia lanjut. Barmi (65) dan janem (63) dengan setia menemani Sukarti ketika dimintai tolong pemilik lahan untuk menanamkan benih-benih padi mereka.

Baca Juga : Bhabinkamtibmas Desa Dero Laksanakan PAM Pembagian BLT Dana Desa Tahap VIII

Bagi Janem, menjadi buruh tandur merupakan tuntutan ekonomi keluarganya yang pas-pasan, sehingga dengan upah yang ia peroleh nanti diharapkan dapat membantu suaminya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Demikian pula dengan Barmi, meski menjadi buruh tandur tiga kali selama setahun, namun hasil dari jasa buruh tandur ini juga cukup membantu suaminya dalam mencari nafkah keluarganya.

“Sekedik-sekedik saget kagem nyekapi kebetahan, nggo tumbas bumbon lan lawuh. (biar sedikit tetapi bisa untuk tambah-tambah beli bumbu dapur dan lauk),” tutur Barmi.

Ia mengatakan, upah menjadi buruh tandur tak seberapa karena dalam sehari mereka mendapatkan jasa sekitar Rp 70 RB Sampai Rp 120 ribu per hari, dan ketambahan di beri makan oleh pemilik lahan. Namun itu seolah tak mereka hiraukan, karena tujuan mereka menjadi buruh tandur adalah untuk membantu para petani menanam padi dan tetap selalu bersyukur.