DERO.NGAWIKAB.ID – Meskipun zaman sudah semakin modern, sebagian kecil masyarakat di Ngawi ternyata masih menjalankan tradisi warisan leluhur.

Salah satunya tradisi di kalangan petani yang biasa disebut methil atau boyong padi. Meski sudah banyak tergeser dan dilupakan, sebagian petani masih setia melakukannya.

Seperti di Desa Dero Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi, Salah satu sesepuh yakni Kasmun (76) warga Dusun Tegal Duwur Desa Dero Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi, masih rutin menjalankan tradisi methil itu setiap musim padi tiba.

Ia menyampaikan methil dalam tradisi Jawa merupakan ritual kecil-kecilan di tengah sawah sebelum padi di panen.

Upacara tersebut mirip dengan kondangan atau kenduren pada umumnya. Namun digelar oleh setiap petani di petak sawahnya sendiri-sendiri.

Baca Juga : TRADISI WIWITAN TANAM PADI MASIH LESTARI DI DESA DERO

Acara kenduren itu digelar dengan menyiapkan nasi, ingkung ayam, kerupuk dan lauk-pauk lengkap. Semua sajian itu ditaruh di daun pisang dan daun jati lalu dilengkapi dengan merang dan kemenyan untuk di bakar terlebih dahulu sebelum didoakan bersama.

“Tradisi methil padi itu adalah wiwitan boyong mbok Dewi Sri. Itu sebagai ujub syukur atas padi yang sudah akan dipanen,” paparnya, Kamis (18/2/2021).

Tradisi methil juga dilakukan di sawah Narti (62) warga setempat. Narti menuturkan tradisi methil itu merupakan warisan leluhur dan dijalankan turun temurun.

Tujuannya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat atas hasil padi yang baik siap panen, dijauhkan dari hama sehingga berkualitas dan panen melimpah.

Kalau orang Jawa percaya methil ini agar bisa ayem tentrem dan bisa bermanfaat pagi pemilik sawah. Ini boyong Mbok Sri untuk dibawa ke rumah agar bisa ayem tentrem padinya bermanfaat,” jelasnya.

Baca Juga : Jelang 1 Abad, PSHT Akan Gelar Festival Pencak Silat Internasional di Kota Madiun

Menurut Kasmun, tradisi methil juga merupakan salah satu sarana leluhur dulu mendekatkan diri pada sang pencipta.

Tujuannya adalah minta keselamatan dan kelancaran serta dijauhkan dari bahaya maupun hama yang bisa merusak tanaman padi.

“Ini sarana berdoa dan bersyukur karena tanaman padi dijauhkan dari penyakit. Tradisi ini harus diuri-uri. Karena apa, kita ini orang Jawa ya minta berkah pada sang pencipta yang bisa memberikan rezeki nikmat melalui padi disawah ini,” pungkasnya.