Hujan di Musim Kemarau : Penyebab dan Sampai Kapan

Hujan di Musim Kemarau : Penyebab dan Sampai Kapan


DERO.NGAWIKAB.ID – Hujan di musim kemarau masih sering terjadi saat ini. Apa penyebab hujan di musim kemarau dan sampai kapan terjadinya?

Bulan Maret-Oktober normalnya menjadi musim kemarau di Indonesia. Akan tetapi, seperti yang terjadi, kenyataannya, pada musim kemarau ini, hujan lebat tetap turun dan terkadang disertai petir.

Sejumlah daerah diguyur hujan deras dan ada juga yang  diguyur hujan dengan intensitas ringan saja. Cuaca di luar penghitungan normal ini tentunya mengundang pertanyaan. Apa yang menjadi penyebab hujan di musim kemarau dan sampai kapan itu akan terjadi? Di bawah ini mungkin dapat menjadi penjelasan yang dapat mencerahkan pengetahuan Anda berdasarkan penjelasan BMKG.

Penyebab hujan di musim kemarau

Baca Juga:

Penyebab hujan di musim  kemarau adalah terjadi pembentukan Dipole Mode negatif di Samudera Hindia. Dipole Mode adalah fenomena anomali di laut yang ciri-cirinya terjadi penyimpangan suhu di laut yang berlawanan dengan bagian barat dan timur.

Ringkasnya Dipole Mode merupakan fenomena adanya interaksi antara atmosfer dan laut. Hal itu kemudian menyebabkan suhu meningkat dan memproduksi hujan. Dipole Mode negatif diperkirakan terjadi dalam waktu singkat, di bulan Juli-Agustus

Diprediksi hujan di musim kemarau ini akan berlangsung sampai Oktober. Badan Klimatologi menjelaskan bahwa kondisi ini juga merupakan akibat dari pengaruh perubahan luas dan atmosfer di Samudera Hindia.

Hal itu dibuktikan dengan adanya pembentukan pusat tekanan rendah berupa pusaran angin (vortex) di selatan ekuator sekitar pesisir barat Sumatera dan Jawa. Sementara itu, pembentukan vortex sangat intensif di Samudera Hindia. Oleh karena itu, diprediksi hujan di musim kemarau akan terjadi sepanjang musim kemarau.

Sumber : Suara.com

Baca Juga, Pos Berita Sebelumnya :

Bung Karno Temukan Konsep Pancasila di Bawah Pohon Sukun

Bung Karno Temukan Konsep Pancasila di Bawah Pohon Sukun

DERO.NGAWIKAB.ID – Tanggal 1 Juni akhirnya ditetapkan sebagai hari libur nasional. Yakni sebagai peringatan hari lahirnya Pancasila. Mengapa 1 Juni? Karena pada 1 Juni 1945, Sukarno pertama kali membeberkan gagasan Pansasila dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Konsep lima sila itu bukan hadir secara tiba-tiba. Namun melalui proses panjang. Yakni sejak Sukarno diasingkan selama empat tahun oleh Belanda ke Pulau Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, terhitung mulai 14 Januari 1934. Di tempat pembuangan itu, Sukarno kerap melakukan perenungan di bawah pohon sukun depan rumahnya. Nah, hasil perenungan di bawah pohon itulah salah satunya melahirkan Pancasila.

“Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di bawah sebatang pohon di halaman rumahku. merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila,” ujar Sukarno, dalam buku biografi yang ditulis Cindy Adam, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Bung Karno menilai, dirinya bukanlah menciptakan Pancasila. Namun hanya menggali lebih jauh ke dalam bumi Indonesia. Yakni tentang tradisi-tradisi yang ada di nusantara. Nah, dari penggalian itu, Sukarno menemukan lima mutiara indah yang dikenal dengan Pancasila.

Di bagian lain, Sukarno menggambarkan tentang pohon sukun di Pulau Ende yang paling ia senangi. Tempat itu dijadikam Sukarno melakukan kontemplasi. Bahkan saat sakit pun Sukarno tetap mendatangi pohon tersebut. Ia duduk berjam-jam sembari melihat pemandangan laut.

Sukarno memandang lautan dengan hempasan gelombangnya yang besar berirama memukul pantai. Pria yang kelak menjadi presiden pertama RI ini tak henti berpikir bagaimana laut tak bisa diam. Memang ada pasang surut, tapi gelombang itu tetap bergulung secara abadi.

“Itu sama dengan revolusi kami. Revolusi kami tidak akan pernah berhenti. Revolusi kami, seperti juga lautan, adalah ciptaan Tuhan, satu-satunya Maha Penyebab dan Maha Pencipta,” kata Sukarno dalam buku tersebut.

Selama pembuangan di Pulau Ende, Sukarno tidak sendiri. Pendiri PNI itu ditemani sang istri, Inggit Garnasih serta ibu mertua (Ibu Amsi) dan anak angkatnya, Ratna Djuami. Satu-satunya barang berharga yang dibawa Sukarno adalah sekeranjang buku. Mereka tiba di rumah tahanan yang terletak di Kampung Ambugaga, Ende, pada 14 Januari 1934.

Sukarno berkisah, rumah yang ia tempat selama di pembuangan cukup memperihatinkan. Rumah berukuran kecil itu tanpa listrik, tanpa air ledeng. Jika mandi, Sukarno harus membawa sabun ke Wona Wona, sebuah sungai yang mengalirkan air dingin dengan di tengah-tengahnya bungkahan batu.

Sementara di sekeliling rumah hanya ada tanaman pisang, pohon-pohon kelapa dan jagung. Di seluruh Pulau Ende tak ada hiburan. Tak ada bioskop maupun perpustakaan. Untuk membunuh kebosanannya, sehari-hari Sukarno memilih berkebun dan membaca. Di tempat itu pula, Bung Karno kembali mengasah jiwa seninya.

Di Pulau Ende, Sukarno benar-benar dilucuti daya hidupnya. “Di penjara Sukamiskin tubuhku dipenjara. Di Flores semangatku dipenjara. Di sini aku diasingkan dari manusia, dari orang-orang yang dapat memperdebatkan tugas hidupku,” ujar Sukarno.

Sumber : beritajatim.com

Baca Juga, Pos Berita Sebelumnya :

Bung Karno Paparkan Pancasila, Hadirin Berlinang Air Mata

Bung Karno Paparkan Pancasila, Hadirin Berlinang Air Mata

DERO.NGAWIKAB.ID – Pukul sembilan pagi, 1 Juni 1945, gedung Volksraad sudah dipenuhi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Gedung itu berarsitektur Belanda. Dindingnya dari kayu berwarna gelap, langit-langitnya dari kaca berwarna, sedangkan lantainya dari marmer padat.

Ruang yang luas di gedung itu dibagi-bagi menjadi 10 deret. Tokoh-tokoh terkemuka dari kepulauan sudah hadir. Ada kelompok Islam, ada kelompok kebangsaan, ada kelompok federalis, ada pula kelompok moderat, dan kelompok lainnya. Semua berkumpul di gedung tersebut.

Setelah sidang dibuka, Sukarno bangkit dan melangkah ke podium marmer yang berada di tempat lebih tinggi. Di podium itulah Sukarno berbicara panjang lebar. Di depan forum itu pula Sukarno mengupas lima mutiara berharga: Kebangsaan, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Demokrasi, Keadilan Sosial dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Aku menjelaskan, hari depan kami harus berdasar pada Kebangsaan, karena orang dan tempat tak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya,” kata Sukarno seperti dikutip dari buku bografi yang ditulis Cindy Adams berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Sukarno kemudian menjelaskan batas-batas kebangsaan. Menurut Sukarno, seorang anak kecil pun jikalau melihat peta dunia dapat menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan kepulauan di antara Samudra Pasifik dan Lautan Hindia. Di antara benua Asia dan Australia. Bangsa Indonesia, lanjut Sukarno, meliputi semua orang yang bertempat tinggal di seluruh kepulauan Indonesia. Dari Sabang di ujung utara Sumatera, sampai Merauke di Papua.

Bung Karno lantas membeberkan mutiara kedua. Internasionalisme atau Perikemanusiaan. “Itu bukanlah Indonesia Uber Alles. Indonesia hanya satu bagian kecil dari dunia. Ingatlah kata-kata Gandhi, saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan,” lontar Sukarno dalam pidatonya tanpa teks.

Pria kelahiran Surabaya ini mengingatkan agar hadirin melawan pandangan yang tidak benar. Yang menganggap ada keunggulan bangsa Arya yang berambut jagung dan bermata biru. “Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman sarinya Internasionalisme,” sambungnya.

Mutiara ketiga yang disampaikan Sukarno adalah tentang Demokrasi. Menurutnya, selama berabad-abad Indonesia hidup dengan kebiasaan asli berupa musyawarah dan mufakat. Hal itu merupakan perundingan demokratis model Asia. Bung Karno meyakini bahwa kekuatan terletak dalam pemerintahan atas dasar perwakilan.

“Kita tidak akan menjadi negara untuk satu orang atau satu golongan. Tetapi semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu,” urainya.

Suasana sidang sunyi senyap. Semua terhipnotis paparan sang singa podium. Bahkan Sukarno menggambarkan kipas angin yang menggantung di atas, berputar tanpa suara. Sementara air mata berlinangan dari pelupuk mata anggata BPUPKI.

Bung Karno lantas memaparkan mutiara keempat tentang Keadilan Sosial. Pria berpeci hitam ini tidak ingin Indonesia Merdeka tapi kaum kapitalisnya merajalela. Dia ingin semua rakyatnya sejahtera, karena merasa diayomi ibu pertiwi yang cukup memberikan sandang dan pangan. “Kita tidak ingin persamaan politik semata. Kita ingin demokrasi sosial. Demokrasi ekonomi. Satu dunia baru yang di dalamnya terdapat kesejahteraan bersama,” lanjutnya.

Terakhir, Sukarno membedah Ketuhanan Yang Maha Esa. “Marilah kita menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Biarkan masing-masing orang Indonesia bertuhan Tuhannya sendiri. Hendaknya tiap-tiap orang menjalankan ibadahnya sesuai dengan cara yang dipilihnya,” papar Sukarno.

Pidato yang memakan waktu lama itu diakhiri Sukarno dengan mengenalkan nama Pancasila. Tepuk tangan bergemuruh langsung memecah kesunyian di gedung Volksraad. Hadirin serentak berdiri dari kursinya dan menerima falsafah tersebut dengan aklamasi.

Sumber : beritajatim.com

Baca Juga, Pos Berita Sebelumnya :

Sejarah Hari Lahirnya Pancasila yang Diperingati Setiap 1 Juni

Sejarah Hari Lahirnya Pancasila yang Diperingati Setiap 1 Juni

DERO.NGAWIKAB.ID – Setiap tahun, Hari lahirnya Pancasila diperingati pada tanggal 1 Juni. Setiap tiba tanggalnya, anak-anak selalu diceritakan kembali bagaimana sejarang yang terjadi terkait Hari Lahirnya Pancasila.

Pancasila merupakan dasar negara yang menjadi pemersatu bangsa Indonesia.

Ceritakan kisah penting ini pada anak mama, berikut Popmama.com telah merangkum sejarah terbentuknya Hari Lahir Pancasila.

  1. Sejarah Hari Lahir Pancasila

Dikutip dari bpip.go.id, sejarah Hari Lahir Pancasila berawal dari kekalahan Jepang pada perang pasifik.

Jepang lalu berusaha mendapatkan hati masyarakat Indonesia dengan menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia dan membentuk sebuah Lembaga bernama Dokuritsu Junbi Cosakai yang tugasnya untuk mempersiapkan hal tersebut.

Pada tanggal 29 Mei 1945, diadakan sidang pertama di Gedung Chuo Sangi In yang sekarang disebut Gedung Pancasila.

Di sana, para anggota membahas mengenai tema dasar negara.

Sidang pertama berjalan sekitar hampir 5 hari.

Kemudian, pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan ide serta gagasannya terkait dasar negara Indonesia, yang dinamai “Pancasila”.

2. Proses penyusunan Pancasila

Panca artinya lima, sedangkan sila artinya prinsip atau asas.

Pada saat itu, Bung Karno menyebutkan lima dasar untuk negara Indonesia, yaitu:

  1. Sila pertama “Kebangsaan”,
  2. Sila kedua “Internasionalisme atau Perikemanusiaan”,
  3. Sila ketiga “Demokrasi”,
  4. Sila keempat “Keadilan sosial”,
  5. Sila kelima “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Dokuritsu Junbi Cosakai kemudian membentuk panitia yang dinamai panitia Sembilan.

Apa saja tugasnya? Panitia sembilan bertugas menyempurnakan rumusan Pancasila dan membuat Undang-Undang Dasar yang berlandaskan kelima asas di atas.

Anggota panitia sembilan terdiri dari, Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Abikoesno Tjokroseojoso, Agus Salim, Wahid Hasjim, Mohammad Yamin, Abdul Kahar Muzakir, Mr. AA Maramis, dan Achmad Soebardjo.

Setelah melalui beberapa proses persidangan, Pancasila akhirnya dapat disahkan pada Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945.

Pada sidang tersebut, disetujui bersama bahwa Pancasila dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara Indonesia yang sah.

Dikutip dari seruyankab.go.id, pada tahun 1998, setelah reformasi, muncul banyak gugatan tentang hari lahir Pancasila.

Pada awalnya, ada tiga tanggal yang berkaitan dengan hari lahir Pancasila, yaitu tanggal 1 Juni 1945, tanggal 22 Juni 1945 dan tanggal 18 Agustus 1945.

Akhirnya, 1 Juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila.

Ditetapkannya 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila karena pada tanggal tersebut kata Pancasila pertama kali diucapkan oleh Bung Karno.

Bung Karno mengucapkan kata Pancasila pertama kali di sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Pada saat itu, Bung Karno belum diangkat menjadi Presiden.

Soekarno berpidato di hadapan sekitar 65 anggota sidang BPUPKI.

Dalam pidatonya, Soekarno berusaha menyatukan perdebatan yang meruyak di antara para anggota BPUPKI mengenai dasar negara.

Soekarno menawarkan lima sila yang terdiri dari:

  1. Kebangsaan Indonesia;
  2. Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan;
  3. Mufakat atau Demokrasi;
  4. Kesejahteraan Sosial;
  5. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Selain Soekarno, Ketua BPUPKI yakni Radjiman Wedyodiningrat juga menyampaikan pandangan mengenai dasar negara.

Selain Soekarno, Ketua BPUPKI yakni Radjiman Wedyodiningrat juga menyampaikan pandangan mengenai dasar negara.

Kemudian, ada M. Yamin dan Soepomo yang ikut memaparkan pandangan mereka.

Namun pada akhirnya, pidato Soekarno dianggap paling pas dijadikan rumusan dasar negara Indonesia.

“Pidato itu disambut hampir semua anggota dengan tepuk tangan riuh. Tepuk tangan yang riuh sebagai suatu persetujuan,” kenang Mohammad Hatta dalam Menuju Gerbang Kemerdekaan (2010).

  1. Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021

Tema peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2021 adalah “Pancasila dalam Tindakan, Bersatu untuk Indonesia Tangguh”.

Sesuai dengan SE Nomor 04 Tahun 2021 tentang Pedoman Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2021, upacara peringatan dilakukan secara virtual. Hal ininterkait adanya pandemi di Indonesia saat ini.

Hari Lahir Pancasila Tahun 2021 dilaksanakan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi kedaruratan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Dalam rangka mendukung upaya pemerintah dalam mencegah, mengendalikan, dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia, maka peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2021 dilaksanakan Upacara Bendera secara virtual kombinasi.

Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2021 dilaksanakan serentak mulai pukul 07.45 WIB secara virtual kombinasi.

Seluruh warga negara Indonesia untuk mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2021 melalui siaran langsung di kanal YouTube Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, laman Facebook Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Instagram Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dan melalui siaran TVRI.

Kapan puasa Syawal 1442 H atau 2021 M yang dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri, dan Bagaimana Niat, Hukum, Serta Jumlahnya?

Kapan puasa Syawal 1442 H atau 2021 M yang dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri, dan Bagaimana Niat, Hukum, Serta Jumlahnya?

DERO.NGAWIKAB.ID – Setelah menunaikan siam di bulan Ramadhan, ibadah selanjutnya adalah puasa Syawal. Lantas, kapan puasa Syawal 1442 Hijriah atau 2021 Masehi yang dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, dan bagaimana niat, hukum, serta jumlahnya?

Puasa Syawal adalah puasa sunah selama 6 hari di bulan Syawal. Idealnya, puasa Syawal dilakukan mulai tanggal 2 sampai 7 Syawal meskipun bisa pula dilakukan di hari-hari lainnya dalam bulan Syawal, kecuali tanggal 1 Syawal.

Keutamaan dalam melaksanakan amalan puasa Syawal cukup besar, dikutip dari artikel di laman Universitas Muhammadiyah Sukabumi, dipercaya setara dengan pahala yang diperoleh dengan berpuasa setahun penuh, sebagaimana sabda Nabi Muhammad S.A.W.:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian menyambungnya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia (pahalanya) berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim).

Baca juga:

Kapan Puasa Syawal Dilakukan?

Puasa syawal boleh dikerjakan 6 hari berturut-turut, atau bisa pula tidak berurutan selama masih berada di bulan Syawal. Namun, tidak boleh dikerjakan dengan melibatkan tanggal 1 Syawal di dalamnya karena merupakan hari dilarang berpuasa.

Menurut pandangan Mahzab Syafi’i, jika seseorang masih memiliki utang puasa Ramadhan, maka sebaiknya mendahulukan puasa qadha. Dengan demikian, utang puasa wajib dibayar dahulu dan baru melaksanakan puasa sunah.

Dari sisi medis, ternyata puasa syawal memiliki efek positif bagi kesehatan. Dikutip dari Antara, puasa Syawal dapat mengondisikan sistem pencernaan untuk menyesuaikan keadaan setelah puasa Ramadhan.

Begitu selesai Ramadhan, orang akan kembali ke pola makan waktu normal. Dimungkinkan akan terjadi lagi ketidakteraturan dalam pola makan, seperti melewatkan sarapan atau waktu makan yang tidak konsisten.

Setelah bebas makan usai Ramadhan, mengerjakan puasa Syawal bisa membuat pencernaan lebih mudah menyesuaikan keadaan ke kondisi makan normal.

Niat dan Jumlah Puasa syawal
Puasa Syawal dikerjakan selama 6 hari di bulan Syawal dan dapat mengerjakannya secara berurutan mapun tidak, kecuali untuk tanggal 1 Syawal. Harus dipastikan untuk mengerjakan amalan sunah ini telah memiliki niat lebih dahulu.

Niat puasa Syawal dapat dibaca dalam hati. Selama pikiran dan hati sudah memiliki maksud untuk mengerjakan puasa syawal, maka sudah cukup. Namun, apabila ingin melafalkannya, berikut ini niat yang bisa diucapkan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.”

Pelaksanaan puasa Syawal seperti halnya puasa Ramadhan dan puasa lainnya dalam Islam. Sejak dari terbit fajar sampai matahari terbenam, tidak diperbolehkan makan dan minum.

Selain itu, tidak boleh melakukan hubungan suami-istri serta perbuatan-perbuatan lainnya yang membatalkan puasa atau mengurangi nilai keutamaan puasa itu, termasuk puasa Syawal.

Sumber : tirto.id

Baca Juga Pos Berita Sebelumnya :

Sejarah dan Filosofi, Lebaran Ketupat dan Lepet dari Sunan Kalijaga

Sejarah dan Filosofi, Lebaran Ketupat dan Lepet dari Sunan Kalijaga

DERO.NGAWIKAB.ID – Idul Fitri merupakan momentum suci bagi umat Islam di dunia termasuk di Indonesia yang dikenal penduduknya memeluk agama Islam terbesar di seluruh dunia. Tak ayal, perayaan Idul Fitri di Indonesia juga paling ramai di banding negara-negara lain.

Idul Fitri dilaksanakan setelah umat Islam melaksanakan puasa selama sebulan. Untuk menandai berakhirnya bulan Ramadhan dan memasuki 1 Syawal, umat Islam di Indonesia menamainya dengan istilah Lebaran atau Hari Raya (Riyoyo).

Namun di Pulau Jawa, lebaran dikenal ada dua macam yaitu lebaran Idul Fitri (1 Syawal) dan Lebaran Ketupat (8 Syawal) yakni seminggu setelah Idul Fitri. Lebaran ketupat di sebagian daerah bahkan sudah menjadi tradisi turun-temuran dirayakan lebih ramai daripada Idul Fitri.

Kenapa Lebaran Ketupat bisa lebih ramai daripada Idul Fitri? Hal ini tak lepas dari tuntunan agama Islam, dimana Nabi Muhammad SAW menganjurkan bagi umat Islam supaya menyempurnakan puasa Ramadhan dengan puasa sunah 6 hari dimulai setelah 1 Syawal karena pahalanya bisa menghapus dosa seseorang untuk 1 tahun kedepan.

Jadi di daerah yang mentradisikan Lebaran Ketupat biasanya warganya setelah Idul Fitri tetap berpuasa sunat selama 6 hari. Ketika masuk 8 Syawal itulah mereka baru berlebaran sebagaimana layaknya masyarakat muslim lainnya.

Di tilik dari sejarahnya, sebagian riwayat menuturkan bahwa Lebaran Ketupat di Jawa kali pertama diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga Raden Said saat beliau memperkenalkan isltilah ba’da (setelah) kepada masyarakat Jawa.

Berita Terkait :

Ba’da yang dimaksud Sunan Kalijaga adalah ba’da Lebaran dan ba’da Kupat. Ba’da Lebaran dipahami dengan prosesi Shalat Idul Fitri 1 Syawal lalu dilanjutkan dengan tradisi silaturrahim saling berkunjung dan memaafkan kepada sesama muslim.

Sedangkan ba’da Kupat dimulai setelah seminggu Lebaran Idul Fitri. Sebagai penanda, masyarakat muslim Jawa biasanya membuat ketupat yakni sejenis makanan yang dibuat dari beras dimasukkan dalam anyaman daun kelapa muda (Janur) berbentuk kantong persegi empat, kemudian dimasak.

Setelah ketupat masak dan diberi lauk pauk ikan, telor dan daging serta diberi kuah bersantan, masyarakat kemudian membagi-bagikan kepada tetangga, kerabat keluarga terdekat serta orang yang lebih tua sebagai perlambang kasih sayang dan mempererat tali silaturrahim.

Filosofi dan Makna Ketupat

Dalam tradisi Jawa sebuah nama itu pasti mengandung arti yang dalam, termasuk kata Ketupat atau Kupat itu singkatan dari Ngaku Lepat (Mengakui Kesalahan) dan
Laku Papat (Empat Tindakan).

Prosesi Ngaku Lepat diimplemantasikan dengan tradisi sungkeman yaitu seorang anak bersimpun memohon maaf dihadapan orang tuanya. Dari tradisi itu kita diajarkan supaya menghormati orang yang lebih tua dan memohon maaf serta meminta bimbingan serta ridhonya karena yang tua dianggap lebih berpengalaman dalam menjalani kehidupan. Begitupun sebaliknya yang tua akan mengasihi dan membimbing yang lebih muda.

Baca Juga :

Simbol tradisi sungkeman atau meminta maaf itu berupa ketupat. Sebab saat kita berkunjung ke rumah kerabat maka akan diberi suguhan ketupat dan diminta untuk dicicipi atau dimakan. Apabila ketupat itu dimakan maka secara otomatis pintu maaf telah dibuka dan segala kesalahan serta kekhilafan yang pernah terjadi antar keduanya akan terhapus.

Kemudian untuk Laku Papat, Sunan Kalijogo menggunakan empat kata atau istilah yakni Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan.

Lebaran berarti akhir atau usainya waktu bulan puasa ramadhan dan bersiap menyongsong hari kemenangan Idul Fitri (kembali suci). Luberan bermakna melebur atau melimpah seperti air yang tumpah karena sudah terisi penuh. Pesan moral Luberan adalah membudayakan mau berbagi kepada orang yang tidak mampu serta membayar zakat karena itu hak orang miskin dan harus diberikan agar harta kita juga menjadi suci.

Sedangkan Leburan bermakna habis atau menyatu. Artinya momen lebaran itu untuk melebur dosa terhadap satu dengan yang lain dengan cara meminta maaf dan memberi maaf, sehingga dosa kita dengan sesama bisa nol kembali.

Terakhir, Laburan dari kata labur atau kapur. Kapur merupakan zat pewarna berwarna putih yang bisa digunakan untuk menjernihkan benda cair. Dari Laburan ini bisa dipahami bahwa hari seorang muslim harus bisa kembali jernih nan putih layaknya kapur yang menjadi simbol supaya manusia bisa menjag kesucian lahir dan batinnya.

Bahan pembuatan Ketupat Lepet juga memiliki makna filosofi tersendiri. Misalnya, kenapa harus dibungkus dengan janur? Janur, diambil dari bahasa Arab “Ja’a Nur” (telah datang cahaya).

Bentuk flsik kupat yang segi empat ibarat hati manusia. Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja’a nur).

Lepet dari kata silep kang rapet. Monggo dipun silep ingkang rapet (mari kita kubur/tutup yang rapat). Jadi setelah mengakui kesalahan (lepat), kemudian meminta maaf, maka kesalahan yang sudah dimaafkan itu jangan pernah diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Betapa besar peran para wali dalam memperkenalkan agama Islam dengan santun. Karena itu umat Islam di Nusantara khususnya Jawa sudah seharusnya memuliakan budaya atau ajaran yang telah disampaikan para wali di Indonesia ini.

Inilah cikal bakal munculnya kalimat Mohon maaf lahir dan bathin, ngaturaken sedoyo kelepatan disaat ‘ldul Fitri di Indonesia dan Pulau Jawa pada khususnya.

Sumber : SabdaNews

Baca Juga, Pos Berita Sebelumnya :